Sering sekali merasa -da saya mah apa atuh- saat melihat kehidupan teman-teman saya. Padahal saya tidak pernah tahu seberapa keras usahanya, seberapa khusyu sholat dan doanya, sebarapa banyak sedekahnya teman-teman saya, yang membuat saya merasa -da saya mah apa atuh. Ada lagi hal yang membuat saya gemas setengah mati, saat melihat teman-teman yang menurut definisi saya -hidupnya bahagia- tapi isi medsosnya keluhan, seolah-olah hidupnya adalah yang terburuk. Mungkin definisi bahagianya tidak sesederhana saya. Ah, tapi itu bukan tolak ukur yang membuat kita harus mengeluh. Pointnya adalah bersyukur, kalo kata Bang Feri di sinetron PPT 6
Formulanya orang islam itu cuma dua. Senang bersyukur, susah bersabar
Setan menggoda manusia dari berbagai sisi. Sekali saja kita lengah, habis lah kita masuk dalam perangkapnya. Godaannya sebelas-duabelas sama godaan mantan ngajak balikan. Jadi hati-hati sama yang namanya mantan hehe. Lebih hebat lagi kalau tidak punya mantan.
Ternyata secara tidak sadar, setan -pelit bersyukur- sedang menggoda saya. Bagaimana bisa saya merasa -da saya mah apa atuh- padahal setahun terakhir ini Allah karuniakan saya dengan kesehatan, Allah alirkan rezeki dari berbagai sumber. Tidak pernah saya merasa kekurangan sehingga harus merepotkan kedua orang tua saya. Meskipun segala keinginan saya belum Allah kabulkan, bukankah Allah yang paling tahu tentang hambaNya. Hal yang saya sukai (ingini) belum tentu baik untuk saya begitupun sebaliknya [2: 216]. Pokoknya Allah Maha Tahu.