Saturday, 24 March 2018

Baiti Jannati

Sudah terhitung kurang lebih 4 bulan. Masa pencarian yang menurut ku membuat lelah. Ya gimana gak lelah, hampir tiap minggu aku rela bangun pagi, berangkat bersamaan dengan terbitnya matahari. Mengorbankan hari libur yang seharusnya bisa di gunakan untuk santai dikamar sambil nonton atau sekedar merebahkan raga.

Mencari rumah itu bukan perkara mudah. Banyak hal yang benar-benar perlu kita pertimbangkan. Ini beberapa list pertimbangan aku dan Mas saat kita cari rumah :

1. Harga
Harga rumah di Cilegon tuh mahal-mahal. Apalagi Cilegon kota. Bagi aku dan Mas yg cuma karyawan buruh itu rasanya mencekik kalo harus ambil KPR rumah yg cicilannya 50-60% dari pendapatan bulanan kita. Daripada merana bin sengsara dikemudian hari, jadi kita lebih memilih yg sesuai kemampuan.

2. Tipe
Masalah tipe ini sebenernya si Mas saklek banget alias keukeuh inginnya punya rumah yg luasnya 90m persegi. Kadang cicilan udah cocok tapi luas tanahnya kecil. Atau luas tanah (LT) udah oke, eh luas bangunan (LB) nya seupil dan belum siap huni alias belum ada dapur, kudu renovasi sorangan (duit deui judulna mah) wkwk.

3. Jarak
Jarak rumah ke kantor itu wajib deket!! Wajib pokoknya kalo buat aku mah. Karena Mas itu kerjanya capek, orang lapangan bangetlah. Sering ada shift malam. Gak tega kalo harus berjam-jam di jalan. Waktu tempuh kantor-rumah/rumah-kantor itu paling lama 30menit.

4. Bebas Banjir
Mau semurah apapun harga rumahnya. Kalo akses jalan/rumah nya banjir. Big No! Sesungguhnya banjir itu merusak perabotan dan merepotkan. Walaupun kita gak pernah tau yg namanya musibah. Tapi sebisa mungkin ingin nya jauh dari tempat-tempat yg berpotensi banjir.

5. Memilih sesuai kemampuan
pertimbangan yg paling penting adalah memilih sesuai kemampuan. Awal mula, aku sempat merajuk minta sama Mas ingin rumah cluster gakmau rumah subsidi (gengsi book) wkwkwk kemudian dinasihati sama si baik hati "hidup gak boleh mementingkan gengsi, hidup sesuai kemampuan ajah. Kalo kamu mampunya A terus kamu maksain ingin B, nanti kamu stress kalo gak tercapai. Aku emang gamau rumah subsidi, bukan karena gengsi. Aku gak ingin mengambil yg bukan hak ku" nyeeeeessssss langsung masuk ke dalam hati nasihatnya.

Akhirnya pencarian itu kini membuahkan hasil. Keliling kesana kemari, menjelajah satu persatu tempat yang asing, menyeleksi dan mempertimbangkan agar kelak tidak menyesal.
Hari itu 30 Oktober. Kamu membuat salah satu keputusan besar dalam hidup kamu. Kamu berhasil mengalahkan ego kamu, di saat teman-teman sebaya kita memilih untuk membeli si roda empat. Dan kamu lebih memilih untuk mencicil rumah. Aku terharu. Huhu lof yu.



Btw, ini postingan udah nongkrong di draft selama 4bulan ha.ha.ha
Baru sempet update blog lagi. Nanti mau cerita lagi tentang detail rumah. Semoga sharing ini bisa bermanfaat. Wassalammu alaykum
Share:
Read More

2018

Jika digambarkan dalam satu kata 2018 ini akan ku nobatkan sebagai tahun pernikahan. Bagi kami angkatan 92-94, tahun ini adalah tahun dimana usia kami bisa dibilang cukup matang untuk membangun rumah tangga.
Dulu waktu usiaku masih piyik, paling hobi nanyain/cengin kakak sepupu yg belum nikah juga padahal usianya udah diatas 23tahun. Dan rata-rata usia pernikahan wanita di keluarga besarku adalah 23-25. DUA PULUH LIMA itu udah paling tua.
Sekarang?
Semacem kayak kena getahnya. Ha.ha.ha
Lama-lama sebel, kesel, risih, sensitive, emosi, bahkan sampe sering nangis. Kalo ada saudara yang nanya "KAPAN NIKAH?"
Belum dijawab pertanyaan kapan nikah, udah muncul lagi "UDAH PUNYA CALON KAN? BURU ATUH"
Kadang untuk menjawabnya benar-benar butuh keberanian. Aku dan Mas memang sudah komitmen untuk melangsungkan pernikahan kami tahun ini (aamiin ya mujibas sailin). Tapi, keluarga ku pernah gagal dalam urusan pernikahan. Dan itu menyimpan trauma yg amat sangat menakutkan bahkan mengerikan bagiku. Belum lagi tabungan ku dan Mas yg belum cukup. Kami tidak ingin terburu-buru dan merepotkan kedua orang tua kami.
Kami percaya Allaah yg maha kaya. Allaah yg akan mencukupkan. Tapi bukan berarti kami nekat, dan tidak ikhtiar bukan?
Di usia segini baru sadar kalo pernyataan-pertanyaan yg bersifat pribadi emang sama sekali gak pantes ditanyain. Mungkin maksudnya ingin tahu, tapi kita gak pernah tahu pertanyaan itu membuat air mata seseorang jatuh dan menyakiti hatinya.
"Treat people the way you want to be treated"
Sebelum bertanya/melakukan sesuatu ke orang lain ada baiknya berpikir kalo kita yg ada di posisi itu. Enak gak diperlakukan kayak gitu? Baik gak diperlakukan seperti itu?
Setalah setahun gak punya mood dan ide buat nulis di blog Hahaha ujung-ujungnya CURHAT weelah.
Share:
Read More
Powered by Blogger.