Saturday, 24 March 2018

2018

Jika digambarkan dalam satu kata 2018 ini akan ku nobatkan sebagai tahun pernikahan. Bagi kami angkatan 92-94, tahun ini adalah tahun dimana usia kami bisa dibilang cukup matang untuk membangun rumah tangga.
Dulu waktu usiaku masih piyik, paling hobi nanyain/cengin kakak sepupu yg belum nikah juga padahal usianya udah diatas 23tahun. Dan rata-rata usia pernikahan wanita di keluarga besarku adalah 23-25. DUA PULUH LIMA itu udah paling tua.
Sekarang?
Semacem kayak kena getahnya. Ha.ha.ha
Lama-lama sebel, kesel, risih, sensitive, emosi, bahkan sampe sering nangis. Kalo ada saudara yang nanya "KAPAN NIKAH?"
Belum dijawab pertanyaan kapan nikah, udah muncul lagi "UDAH PUNYA CALON KAN? BURU ATUH"
Kadang untuk menjawabnya benar-benar butuh keberanian. Aku dan Mas memang sudah komitmen untuk melangsungkan pernikahan kami tahun ini (aamiin ya mujibas sailin). Tapi, keluarga ku pernah gagal dalam urusan pernikahan. Dan itu menyimpan trauma yg amat sangat menakutkan bahkan mengerikan bagiku. Belum lagi tabungan ku dan Mas yg belum cukup. Kami tidak ingin terburu-buru dan merepotkan kedua orang tua kami.
Kami percaya Allaah yg maha kaya. Allaah yg akan mencukupkan. Tapi bukan berarti kami nekat, dan tidak ikhtiar bukan?
Di usia segini baru sadar kalo pernyataan-pertanyaan yg bersifat pribadi emang sama sekali gak pantes ditanyain. Mungkin maksudnya ingin tahu, tapi kita gak pernah tahu pertanyaan itu membuat air mata seseorang jatuh dan menyakiti hatinya.
"Treat people the way you want to be treated"
Sebelum bertanya/melakukan sesuatu ke orang lain ada baiknya berpikir kalo kita yg ada di posisi itu. Enak gak diperlakukan kayak gitu? Baik gak diperlakukan seperti itu?
Setalah setahun gak punya mood dan ide buat nulis di blog Hahaha ujung-ujungnya CURHAT weelah.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.