Thursday, 15 August 2019

11 Bulan

Sudah hampir genap setahun usia pernikahan ku. Hal yang ku takuti (sebelum menikah) dan selalu ku selipkan dalam doa benar-benar terjadi dalam hidup ku.

Menunggu kehadiran titipan Nya.....

Saat masih sendiri, aku selalu meminta "ya Allah, aku ingin setelah menikah nanti Kau langsung berikan aku anak. Aku tidak ingin menunggu lama ya Allah, rasanya aku tak akan sanggup jika aku berada di posisi itu (menunggu hadirnya buah hati)". Nyata nya hingga hari ini, aku masih sanggup menunggu. Kalo dipikir-pikir kenapa aku berdoa begitu ya, padahal aku tahu kalo Allah paling tahu waktu yang terbaik. Sedih rasanya setiap melihat raut wajah kedua orang tua dan mertua ku yang ingin sekali memiliki cucu dari kami. Bukan, aku dan suami ku, bukan anak pertama di keluarga kami. Aku pun sudah punya 3 keponakan, mungkin karena kami tinggal jauh dari orang tua, yang bahkan waktu berkunjung pun 2 bulan sekali. Jadilah setiap kali berkunjung selalu diperlakukan istimewa. Bukan hanya sekedar ucapan, bahkan Bapak mertua ku beberapa kali mengirim pesan teks WhatsApp entah berupa doa agar cepat hamil atau kadang beberapa tips.

Sebulan yang lalu aku terkena musibah, yang menurut ku itu kecerobohan ku juga. Tapi cukup membuat ku sedih dan tepukul. Hari itu, 11 Juli sekitar pukul 10 pagi. Aku meninggalkan kompor dalam keadaan menyala. Aku lupa kalau aku menyalakan kompor. Mungkin ada sekitar 5 menit sampai akhirnya api menyambar minyak di atas wajan/penggorengan/kenceng (i don't know what you name it). Aku panik tapi berusaha tidak panik, api semakin tinggi menyambar wadah centong-centong yang ku gantung di atas kompor. Dengan sigap ku ambil handuk basah dan ku lempar ke arah api itu dan tentu saja apinya menyambar wajahku, minyak goreng pun terciprat ke arah ku. Panas bukan main, alis dan rambut ku bagian depan terbakar sedikit. Aku dibawa ke IGD oleh tetangga ku. Alhamdulillah luka bakarnya tidak parah, dan aku bisa langsung pulang setelah suami ku menjemput. Kejadian itu benar-benar meninggalkan trauma, sejak saat itu sampai sekitar 2 minggu aku tidak masak dan menyentuh kompor. Trauma ceunah. he he

..........

Entah kenapa, akhir-akhir ini aku lebih perasa. Terkadang aku menganggap hanya akulah yang punya masalah, orang lain tidak. Inginnya dimengerti orang lain, tapi tak  mau mengerti orang lain. Aku seperti lelah, merasa useless, dan bosan dengan rutinitas ku sebagai IRT. Sering terlintas penyesalan dalam benak ku, kenapa dulu aku nurut suami ku untuk resign kerja, kenapa aku gak berusaha lebih keras meyakinkan beliau kalo aku mampu menjalankan dua peran sekaligus, sebagai istri dan sebagai perempuan bekerja. 

Tapi nasi sudah menjadi bubur, bukannya tidak mencari. Aku berusaha mencari kerja, tapi belum ada hasilnya. 

Boleh ya aku mengeluh sebentar?
Saat lulus SMA aku belajar bersungguh-sungguh, semua jalur tes PTN aku ikut. Tapi aku tidak berhasil di tahun pertama. Dan aku harus menunda 1 tahun untuk kuliah. Ditahun kedua aku berhasil lolos ujian SNMPTN Mandiri, itupun benar-benar jalur terakhir disaat aku benar-benar sudah hopeless, sudah pasrah, terserah Allah ajah nasib aku mau gimana? Alhamdulillah saat itu dapat kuliah. Ketika lulus kuliah aku di uji dengan sulitnya mencari pekerjaan, aku menganggur 8 bulan sampai akhirnya aku bekerja di sebuah Lab, itupun hanya 2 bulan. Selanjutnya aku kembali menganggur 8 bulan, saat itu aku juga udah hopeless aku pasrah sampai-sampai aku berdoa "ya gpp ya Allah aku kerja jadi admin juga. Yang penting aku kerja, aku gak mau nganggur" akhirnya benar dapat kerja jadi ADMIN, Alhamdulillah

Lalu, sekarang? aku harus menunggu lagi ya, ya Allah?
Saat kemarin kena musibah aku sedih dan benar-benar terpukul. Aku berharap akan ada episode indah dari Allah dalam hidup aku. Ternyata belum sekarang ya? Mungkin doa ku sedikit, syukur ku kurang banyak, ikhtiar ku tidak giat. Aku mungkin belum pantas, ya Allah kalau begitu aku tidak akan minta semuanya mudah untuk ku dapatkan, aku minta kuatkan aku dan suami ku, ridhoi pernikahan kami. Anugrahkan kami keturunan di waktu yang terbaik menurut Mu. Aku berserah


Cilegon, 23.49 (150819)
menunggu suami pulang kerja
Share:
Read More

Wednesday, 14 November 2018

Menuju #menikah2018 (1)

21 Juni 2018

Hari itu setelah aku selesai service jam tangan. Aku dan Mas janjian untuk berjumpa. Hm, melepas rindu ceunah, setelah hampir 2 minggu gak ketemu. Dan memang kebetulan momennya idulfitri, jadi seperti biasa ditinggal mudik akumah hiks.

Kami janjian bertemu di Bekasi. Mas menjemput ku di stasiun. Setelah bertemu, kami memutuskan melipir ke warung soto untuk mengisi perut dan agar lebih nyaman untuk bertukar cerita. Dari rumah bahkan diperjalanan pun aku sempet kepikiran kayaknya Mas mau ngomong sesuatu yg penting, soalnya maksa banget ngajak ketemu. Padahal dia baru banget pulang mudik jam 9 malam. Nyetir seharian penuh. Jadi gak tega gitu khawatir kecapean. Tapi dia keukeuh ingin ketemu. Baiklah aku nurut saja.

Dan siang itu, cuacanya gak panas-panas amat kayak biasanya, cenderung adem malah sempat gerimis. Aku pesan sate dan Mas pesan soto, sambil menunggu makanan datang Mas langsung bilang.

Mas : minggu ini aku kerumah kamu ya? *sambil senyum-senyum*
Aku : hehehe yaudah Mas *karena sesungguhnya ku sudah tau*
Mas : apa abis ini kita mau cari cincin ajah yang?
Aku : eh?? sekarang banget niih?
Mas : hehe ciee mau dilamar

Tidak bisa dipungkuri, hari itu aku bahagia bukan main. Walaupun memang sebelumnya ada obrolan kami ingin menikah, tapi ya sebatas obrolan "aku mau nikah setelah idul fitri tahun ini ya Mas" enggak tahu kapan dia mau ngelamar dan kapan kita mau nikahnya haha. Pokoknya modal nekat ajah.

Setelah selesai makan, aku dan Mas mencari mesjid terdekat untuk melaksanakan sholat ashar kemudian kami berkeliling kota bekasi mencari cincin lamaran. Karena gak ngerti harus beli yang kayak apa? dan kebetulan belinya pun mendadak, jadilah sampe toko emas, ku pilih saja yang ukuran nya pas di jari manisku. Maklum punya badan mini jadi susah kalo beli apapun haha gak pilih model tapi pilih yang ada ukurannya, dan gak perlu PO karena lamaran aku dan Mas akan dilangsungkan 30 Juni 2018. Itu artinya kami hanya punya waktu 8 hari, dan kami sama-sama bekerja. 

Pilihan ku jatuh pada cincin agak lebar kalo menurut ku. Modelnya sih gak begitu bagus, tapi itu yang paling pas di jari.



Share:
Read More

Saturday, 24 March 2018

Baiti Jannati

Sudah terhitung kurang lebih 4 bulan. Masa pencarian yang menurut ku membuat lelah. Ya gimana gak lelah, hampir tiap minggu aku rela bangun pagi, berangkat bersamaan dengan terbitnya matahari. Mengorbankan hari libur yang seharusnya bisa di gunakan untuk santai dikamar sambil nonton atau sekedar merebahkan raga.

Mencari rumah itu bukan perkara mudah. Banyak hal yang benar-benar perlu kita pertimbangkan. Ini beberapa list pertimbangan aku dan Mas saat kita cari rumah :

1. Harga
Harga rumah di Cilegon tuh mahal-mahal. Apalagi Cilegon kota. Bagi aku dan Mas yg cuma karyawan buruh itu rasanya mencekik kalo harus ambil KPR rumah yg cicilannya 50-60% dari pendapatan bulanan kita. Daripada merana bin sengsara dikemudian hari, jadi kita lebih memilih yg sesuai kemampuan.

2. Tipe
Masalah tipe ini sebenernya si Mas saklek banget alias keukeuh inginnya punya rumah yg luasnya 90m persegi. Kadang cicilan udah cocok tapi luas tanahnya kecil. Atau luas tanah (LT) udah oke, eh luas bangunan (LB) nya seupil dan belum siap huni alias belum ada dapur, kudu renovasi sorangan (duit deui judulna mah) wkwk.

3. Jarak
Jarak rumah ke kantor itu wajib deket!! Wajib pokoknya kalo buat aku mah. Karena Mas itu kerjanya capek, orang lapangan bangetlah. Sering ada shift malam. Gak tega kalo harus berjam-jam di jalan. Waktu tempuh kantor-rumah/rumah-kantor itu paling lama 30menit.

4. Bebas Banjir
Mau semurah apapun harga rumahnya. Kalo akses jalan/rumah nya banjir. Big No! Sesungguhnya banjir itu merusak perabotan dan merepotkan. Walaupun kita gak pernah tau yg namanya musibah. Tapi sebisa mungkin ingin nya jauh dari tempat-tempat yg berpotensi banjir.

5. Memilih sesuai kemampuan
pertimbangan yg paling penting adalah memilih sesuai kemampuan. Awal mula, aku sempat merajuk minta sama Mas ingin rumah cluster gakmau rumah subsidi (gengsi book) wkwkwk kemudian dinasihati sama si baik hati "hidup gak boleh mementingkan gengsi, hidup sesuai kemampuan ajah. Kalo kamu mampunya A terus kamu maksain ingin B, nanti kamu stress kalo gak tercapai. Aku emang gamau rumah subsidi, bukan karena gengsi. Aku gak ingin mengambil yg bukan hak ku" nyeeeeessssss langsung masuk ke dalam hati nasihatnya.

Akhirnya pencarian itu kini membuahkan hasil. Keliling kesana kemari, menjelajah satu persatu tempat yang asing, menyeleksi dan mempertimbangkan agar kelak tidak menyesal.
Hari itu 30 Oktober. Kamu membuat salah satu keputusan besar dalam hidup kamu. Kamu berhasil mengalahkan ego kamu, di saat teman-teman sebaya kita memilih untuk membeli si roda empat. Dan kamu lebih memilih untuk mencicil rumah. Aku terharu. Huhu lof yu.



Btw, ini postingan udah nongkrong di draft selama 4bulan ha.ha.ha
Baru sempet update blog lagi. Nanti mau cerita lagi tentang detail rumah. Semoga sharing ini bisa bermanfaat. Wassalammu alaykum
Share:
Read More

2018

Jika digambarkan dalam satu kata 2018 ini akan ku nobatkan sebagai tahun pernikahan. Bagi kami angkatan 92-94, tahun ini adalah tahun dimana usia kami bisa dibilang cukup matang untuk membangun rumah tangga.
Dulu waktu usiaku masih piyik, paling hobi nanyain/cengin kakak sepupu yg belum nikah juga padahal usianya udah diatas 23tahun. Dan rata-rata usia pernikahan wanita di keluarga besarku adalah 23-25. DUA PULUH LIMA itu udah paling tua.
Sekarang?
Semacem kayak kena getahnya. Ha.ha.ha
Lama-lama sebel, kesel, risih, sensitive, emosi, bahkan sampe sering nangis. Kalo ada saudara yang nanya "KAPAN NIKAH?"
Belum dijawab pertanyaan kapan nikah, udah muncul lagi "UDAH PUNYA CALON KAN? BURU ATUH"
Kadang untuk menjawabnya benar-benar butuh keberanian. Aku dan Mas memang sudah komitmen untuk melangsungkan pernikahan kami tahun ini (aamiin ya mujibas sailin). Tapi, keluarga ku pernah gagal dalam urusan pernikahan. Dan itu menyimpan trauma yg amat sangat menakutkan bahkan mengerikan bagiku. Belum lagi tabungan ku dan Mas yg belum cukup. Kami tidak ingin terburu-buru dan merepotkan kedua orang tua kami.
Kami percaya Allaah yg maha kaya. Allaah yg akan mencukupkan. Tapi bukan berarti kami nekat, dan tidak ikhtiar bukan?
Di usia segini baru sadar kalo pernyataan-pertanyaan yg bersifat pribadi emang sama sekali gak pantes ditanyain. Mungkin maksudnya ingin tahu, tapi kita gak pernah tahu pertanyaan itu membuat air mata seseorang jatuh dan menyakiti hatinya.
"Treat people the way you want to be treated"
Sebelum bertanya/melakukan sesuatu ke orang lain ada baiknya berpikir kalo kita yg ada di posisi itu. Enak gak diperlakukan kayak gitu? Baik gak diperlakukan seperti itu?
Setalah setahun gak punya mood dan ide buat nulis di blog Hahaha ujung-ujungnya CURHAT weelah.
Share:
Read More

Saturday, 25 March 2017

Tamu yang tak pernah hadir

Dari awal seharusnya aku mengerti bahwa bermain dengan hati beresiko tersakiti.
Dari awal seharusnya aku tahu bahwa sosok mu berpotensi membuat ku jatuh hati.
Dari awal seharusnya aku sadar bahwa kamu adalah tamu yang tidak pernah hadir. 
Share:
Read More
Powered by Blogger.